Langit Malam

Rasa kenangan pikiran kepingan hati.
Bercak kehidupan seorang manusia.

Apr 13

Rasa.

Ketika ada tak lagi nyata
dan fakta tak lagi terasa.
Kekosongan mengisi nadi
merambat mendesir isi diri

Fantasi liar orang-orang yang terbuai candu
pecundang yang tak bisa lari dari waktu
terlupakan, terdiam dalam deru
tanpa mengenal matahari berlalu

Ini adalah jeritan mereka yang telah tiada
terbakar api nestapa,
tercengkram tangan pesona
Berharap kisah yang sedikit bahagia
tentang hidup-hidup manusia
mengecap indahnya setia.
merasa manisnya menjaga

Ini kisah sebuah panji
ditinggal hancur sang mentari
sepi sendiri tak berarti
tanpa setitikpun peduli.
retak patah tak terobati

teronggok hingga musnah


Bandung, 13-4-2010, 00:45
Yudistira Anugrahadi Wiraputra


Apr 11

Tentangmu.

Rasakan angin itu,
menusuk rusuk diriku
dingin tanpa rasa
kaku tanpa nada.

Hinggap di pepohonan sendu
randu randu semu pemecah bisu.
tiada tenang, tiada menang,
hanya resah berbalut gelisah.

Dia, aku, kamu.
entah, aku rindu
kala waktu masih berjalan santai
kau aku masih berdamai
kala waktu masih asik bersemu
kau aku masih aku kamu.

Jika memang hal itu terjadi
yang kumau hanya setitik arti
atas segala yang telah dan akan tersingkap
di tengah segala perangkap
membayangkan dirimu hinggap
agar kau tak lagi senyap

Mengapa kau begitu?


Bandung, 11-4-2012, 22:35
Yudistira Anugrahadi Wiraputra


Apr 10

Feb 14

SifatKoreksiHati

Detik sayap kibarkan rasa,
menguap dalam sekejap mata
ciptakan gemilang, hitam, abu
dalam kelam naung kelambu
tipis dan mendera inti
tanpa celah tuk berlari

tiada ruang hati berlabuh
melepas rindu membuang sauh
buas insting mengerat darma
mentahkan hati dan akal bersama
tak lama ini kan binasa

nalari bulir aliran waktu
untaian rangsang pemudar kalbu
dalam diam memola lisan
dalam senyap memeta pikiran
lakon nyata semaya mimpi
alunan nyanyian delusi

Ini nyata
Ini fana
ini siksa
.
.
.
.
.
.
.
Ini dan dia.




Bandung, 13 Februari 2012 

tertanda,
Yudistira A. W.


Dec 26

Berontak

pernahkah engkau mencoba barang sebentar saja luangkan waktu, hentikan langkah, dengarkan alunan jiwa yang mengalir di ulir-ulir nadi yang sudah tua ini.

Atau teriakan-teriakan hati yang merambat menusuk tulang, bergaung begitu saja, terperangkap di tengah hamparan lika-liku lubang para pemikir.

Mereka adalah kisah gelisah para pikiran yang telah hilang, mereka adalah cerita resah para persona yang telah tiada.

Pembawa berita, pengikut tercinta, pelindung setia, pemikir cerdas, berbagi darah dalam balutan kain tak bermakna, tak berjiwa.


Kami ada.



Bandung
12:30 AM
2011/12/26

YAW.


Page 1 of 3